Follow by Email

Jumat, 12 September 2008

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN FRAKTUR CRURIS

PENGERTIAN
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang menerima beban yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart)

• JENIS FRAKTUR
a.Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.
b.Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
c.Fraktur tertutup : fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
d.Fraktur terbuka : fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
e.Greenstick : fraktur di mana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkak.
f. Transversal : fraktur sepanjang garis tengah tulang
g.Kominutif : fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
h.Depresi : fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
i.Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
j.Patologik : fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

ETIOLOGI
• Trauma
• Gerakan pintir mendadak
• Kontraksi otot ekstem
• Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma

MANIFESTASI KLINIS
• Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema
• Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
• Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur
• Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
• Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

• PEMERIKSAAN PENUNJANG
• pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
• Pemeriksaan jumlah darah lengkap
• Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
• Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal

PENATALAKSANAAN
• Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.
• Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
• Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
• Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
• Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
• Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau
• Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah

• KOMPLIKASI
• malunion : tulang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
• Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
• Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

• PENGKAJIAN DATA DASAR
• aktivitas/istirahat
• kehilangan fungsi pada bagian yangterkena
• Keterbatasan mobilitas
• Sirkulasi
• Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri / ansietas)
• Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
• Tachikardi
• Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
• Capilary refill melambat
• Pucat pada bagian yang terkena
• Masa hematoma pada sisi cedera
• Neurosensori
• Kesemutan
• Deformitas, krepitasi, pemendekan
• kelemahan
• kenyamanan
• nyeri tiba-tiba saat cidera
• spasme/ kram otot
• keamanan
• laserasi kulit
• perdarahan
• perubahan warna
• pembengkakan lokal

• PRIORITAS KEPERAWATAN
• Mencegah cedera tulang/ jaringan lanjut
• Menghilangkan nyeri
• Mencegah komplikasi
• Membeikan informasi tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan

• DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
• Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergeseran fragmen tulang
• Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka , bedah perbaikan

• INTERVENSI
• Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera jaringan sekitar fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
Tujuan : kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan
Kriteria hasil:
• Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
• Mempertahankan posisi fungsional
• Meningkatkan kekuatan /fungsi yang sakit
• Menunjukkan teknik mampu melakukan aktivitas
Intervensi:
a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
• Tinggikan ekstrimitas yang sakit
• Instruksikan klien/bantu dalam latian rentang gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit
• Beri penyangga pada ekstrimitas yang sakit di atas dandi bawah fraktur ketika bergerak
• Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
• Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan
* Awasi tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas
• Ubah posisi secara periodik
• Kolaborasi fisioterapi/okuasi terapi

b.Nyeri berhubungan dengan spasme otot , pergeseran fragmen tulang
Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
Kriteria hasil:
• Klien menyatakan nyeri berkurang
• Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
• Tekanan darah normal
• Tidak ada peningkatan nadi dan laju napas (RR)

Intervensi:
• Kaji ulang lokasi, intensitas dan tipe nyeri
• Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
• Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan
• Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
• Jelaskan prosedur sebelum memulai
• Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif / aktif
• Dorong menggunakan teknik manajemen stress, contoh : relaksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
• Observasi tanda-tanda vital
• Kolaborasi : pemberian analgetik

• Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka , bedah perbaikan
Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:
• Penyembuhan luka sesuai waktu
• Tidak ada laserasi, integritas kulit baik

Intervensi:
• Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainase
• Monitor suhu tubuh
• Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol
• Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
• Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
• Masage kulit sekitar akhir gips dengan alkohol
• Gunakan tempat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
• Kolaborasi pemberian antibiotik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar